PERAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENCAPAIAN MDG’S

Akhirnya marak lagi pembicaraan tentang MDG’S. Terutama di ilmu yang nantinya akan berperan dalam pencapaian MDG’S ini. Salah satunya ilu kesehatan masyarakat. Gimana tidak 4 aspek dalam MDG’S merupakan aspek yang harus diselesaikan atau dicapai oleh orang-orang yang bergelut di dunia kesehatan masyarakat. Yaitu
1.    Menurunkan Angka Kematian Anak
2.    Meningkatkan Kesehatan Ibu
3.    Memerangi HIV/AIDS, Malaria serta Penyakit Lainnya
4.    Memastikan Kelestarian Lingkungan

Apa sih sebenarnya MDG’S itu, dan seberapa besar peran ilmu kesehatan masyarakat intu sendiri??

MDG'S

MDG'S

MDG’S atau yang disebut Millenium Development Goals merupakan delapan tujuan yang disepakati berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan yang terjadi di dunia, bahkan dalam seminar Nasional Peran Ilmu Kesehatan Masyarakat dalam pencapaian MDG’S yang dilaksanakan oleh ISMKMI UNAIR, Dr. Herlin Ferliana, M.Kes (Kabid Bina Pelayanan Kesehatan Dinkes Provinsi Jatim) menyatakan bahwa 8 tujuan MDG’S ini merupakan 8 syarat untuk memanusiakan manusia.

8 Tujuan MDG’S antara lain
TUJUAN 1: Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem
TUJUAN 2: Mewujudkan pendidikan dasar untuk semua
TUJUAN 3: Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
TUJUAN 4: Menurunkan angka kematian anak
TUJUAN 5: Meningkatkan kesehatan ibu
TUJUAN 6: Memerangi HIV dan AIDS, malaria serta penyakit lainnya
TUJUAN 7: Memastikan kelestarian lingkungan
TUJUAN 8: Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

Kesehatan Masyarakat memiliki peran penting dalam pencapaian tujuan ke 4, 5, 6 dan 7
MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN BAYI
Target yang ingin dicapai oleh Indonesia dalam mencapai tujuan ini adalah mampu menurunkan angka kematian anak hingga 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015. Indikator yang dilihat yaitu angka kematian balita per 1000 kelahiran hidup yaitu untuk acuan dasar sebanyak 97 (1991), untuk saat ini sebanyak 44 (2007) dan target yang ingin dicapai yaitu 32 (2015). Sedangkan angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup yaitu untuk acuan dasar sebanyak 32 (1991), saat ini 34 (2007), dan target 23 (2015). Angka kematian neonatal dengan acuan dasr 32 (1991), saat ini 19 (2007) dan target 14 (2015).
Indikator utama tujuan ini adalah angka kematian anak di bawah lima tahun
(balita).  Target MDG’S adalah untuk mengurangi dua pertiga angka tahun 1990. Saat itu,
jumlahnya  97 kematian per 1.000 kelahiran hidup.  Target saat ini adalah 32 kematian per
1.000 kelahiran hidup.  Dengan demikian, Indonesia cukup berhasil.
Indikator kedua adalah proporsi anak usia satu tahun yang mendapat imunisasi campak.
Angka ini telah meningkat,menjadi 72% untuk bayi dan 76% untuk anak dibawah 23 bulan
pada 2006, namun perlu lebih ditingkatkan lagi.

MENINGKATKAN KESEHATAN IBU
Setiap tahun sekitar 20.000 perempuan di Indonesia meninggal akibat komplikasi dalam persalinan.
Data yang diperoleh mengenai angka kematian ibu (AKI) antara lain, AKI per 100.000 kelahiran hidup dengan acuan dasar 390 (1990), saat ini 228 (2007) sedangkan target 102 (2015). Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih dengan acuan dasar 40,70% (1990), saat ini 77,34% (2009) dan targetnya sebesar 90,00% (2015)
Dapat kita lihat, masih tingginya angka kematian ibu pada saat persalinan. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Biasanya, akibat kondisi darurat.  Sebagian besar kelahiran berlangsung normal, namun bisa saja tidak, seperti akibat pendarahan dan kelahiran yang sulit.  Masalahnya, persalinan merupakan peristiwa (kesehatan) besar, sehingga komplikasinya dapat menimbulkan konsekuensi sangat serius.
Target pemerintah Indonesia mengurangi 3/4 angka kematian ibu (AKI) dalam kurun waktu 1990-2015
Jika membicarakan permasalahan kematian ibu atau AKI ini, nantinya banyak masyarakat dan petugas kesehatan menghubung-hubungkan dengan isu Jampersal, karena Jampersal merupakan salah satu program pemerintah untuk mengurangai AKI dan AKB (angka kematian bayi)

MEMERANGI HIV DAN AIDS, MALARIA SERTA PENYAKIT LAINNYA
Prevalensi saat ini adalah 5,6 per 100.000 orang di tingkat nasional positif HIV, namun pada saat ini tidak ada indikasi bahwa kita telah menghentikan laju penyebaran HIV dan AIDS.  Meskipun demikian, kita semestinya bisa melakukannya.  Hampir semua data yang ada berikut ini, terkait dengan kelompok-kelompok berisiko tinggi.
Prevalensi HIV. Para pengguna napza jarum suntik 2003: Jawa Barat, 43%.  PSK perempuan
2003: Jakarta, 6%; Tanah Papua 17%. PSK laki-laki 2004: Jakarta, 4%. Narapidana 2003: Jakarta, 20%.
Untuk kelompok yang melakukan tes. Melakukan tes selama 12 bulan terakhir dan mengetahui hasilnya, 2004-2005: PSK perempuan, 15%; pelanggan pekerja seks, 3%; pengguna napza jarum suntik 18%; laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, 15%.
Untuk Pengetahuna tentang HIV/AIDS. Proporsi kelompok yang tahu bagaimana mencegah infeksi dan menolak kesalahpengertian utama 2004: PSK, 24%; pelanggan pekerja seks, 24%; laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, 43%; pengguna napza jarum suntik,7%.
Kemudian diperoleh juga data, secara kasus Jawa timur menduduki peringkat pertama jumlah penderita HIV/AIDS nya, hal ini juga didukung dengan jumlah penduduk Jawa Timur yang juga banyak. Namun secara peringkat (disesuaikan antara jumlah penderita dengan jumlah penduduk dengan persentase) Jawa Timur menduduki peringkat ke-4 dan di peringkat pertama adalah provinsi Papua (urutan: Papua, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur).

Menghentikan dan mulai membalikkan kecenderungan persebaran malaria dan penyakit-penyakit utama lainnya pada 2015
Malaria. Tingkat kejadian hingga 18.6 juta kasus per tahun. Jumlah ini mungkin sudah turun.
TBC. Prevalensi: 262 per 100.000 atau setara dengan 582.000 kasus setiap tahunnya. Deteksi kasus: 76%. Angka keberhasilan pengobatan DOTS: lebih dari 91%.

MEMASTIKAN KELESTARIAN LINGKUNGAN
Memiliki beberapa target yang ingin dicapai dalam tujuan ini, antara lain:
Target 1
Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan program negara serta mengakhiri kerusakan sumberdaya alam
Indikator pertama adalah proporsi lahan berupa tutupan hutan.  Berdasar citra satelit, jumlahnya sekitar 49,9%, atau bahkan mungkin sudah lebih rendah dari angka tersebut.  Namun citra Landsat merupakan citra satelit dengan resolusi rendah dan mungkin tidak terlalu sesuai untuk melacak perubahan.  Indikator lain adalah rasio kawasan lindung untuk mempertahankan keragaman hayati.  Pada 2006 rasio tersebut adalah 29,5% meskipun sebagian dari jumlah tersebut telah dirambah.
Sejauh ini, angka terkini tentang emisi karbon dioksida per kapita adalah 1,34 sedangkan
konsumsi bahan-bahan perusak lapisan ozon masih pada tingkat 6.544 metrik-ton.  Proporsi
rumah tangga yang menggunakan bahan bakar padat pada 2004 adalah 47,5%.
Target 2
Mengurangi laju hilangnya keragaman hayati, dan mencapai pengurangan yang sigfikan pada 2010
Belum ada data terbaru mengenai hal ini
Target 3
Menurunkan separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses yang berkelanjutan terhadap air minum yang aman dan sanitasi dasar pada 2015
Pada tahun 2006, 57,2% penduduk memiliki akses terhadap air minum yang aman dan meskipun masih ada jarak, kita hampir berhasil untuk mencapai target 67%.  Untuk sanitasi kita nampaknya telah melampaui target 65%, karena telah mencapai cakupan sebesar 69.3%, meskipun banyak dari pencapaian ini berkualitas rendah.
Target 4
Pada 2020 telah mencapai perbaikan signi   kan dalam kehidupan (setidaknya) 100
juta penghuni kawasan kumuh
Meskipun 84% rumah tangga telah memiliki hak penguasaan yang aman, baik dengan memiliki ataupun menyewa, namun jumlah komunitas kumuh yang memiliki akses terbatas pada layanan dan keamanan semakin meningkat.

11 thoughts on “PERAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENCAPAIAN MDG’S

  1. Ika Rizky mengatakan:

    #terpaksa meninggalkan tulisan karena dipaksa yg punya blog.,
    jadiii..saya mendukung tulisan2 anda, xixi, tapi jangan dicopas gt dunk pip, bahasanya ngebosenin,,kayak baca materi kuliya jadinya

  2. apipgoblog mengatakan:

    Hoho… ne kan rubrik serius mbak..
    Tapi oke juga tuh usulnya..
    Btw Copas apa ya? wkwkwkwkwkw😀

  3. Ika Rizky mengatakan:

    astagadragon, apiiiip.,
    hidup d jaman apa, yg kuliya malah g tw,.copas = copy paste

  4. apipgoblog mengatakan:

    enggak copas kug mbak…
    emang harus d robah cara nulis artikelnya

  5. devy mengatakan:

    aku komenn….

  6. lockz mengatakan:

    tumben keluar pinternya..gituuu ngikut seminar ga ngobraasss…dasaaarrr…

  7. yanis mengatakan:

    setuju ma mb ika riski agak terlalu kuliah banget,, awalnya sih oke bacax sarat dengan ilmu tapi lama2 males bacanya hehehe.. mgkin dah setahun g pernah baca handout ato bacaan berat.. ^^
    Tapi keren pip menurutQ,,.. aq ae g bakal bisa bikin,,.. semangat yoo!!!

  8. apipgoblog mengatakan:

    Berarti harus jurnalis biar bacanya jadi nyenengin ya…
    kalau artikel ilmiah emang gitu. aq aja bingung nulis apa

    • yanis mengatakan:

      hehehe.. artikel ilmiah yoo,,..
      tp setuju lagi ma mb ika riski jdinya copy paste bangett apiip irama..^_^
      mungkin lain kali bsa diselipin komentarmu jadi kesannya g berat2 banget bahasanya,,.. sukses ya buat blog mu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s