Jampersal. Jaminan kah??

Dunia kesehatan masyarakat Indonesia sedang diributkan dengan masalah Jaminan Persalinan (JAMPERSAL) setuju, tidak setuju, mendukung, tidak mendukung pelaksanaan Jampersal tetap ingin dijalankan oleh pemerintah dan masih terus digodok agar menjadi lebih baik.

Namun, banyak dari masyarakat diluar para pelaku kesehatan tidak mengerti dan memahami apa dan bagaimana Jampersal ini. Hal ini perlu sosialisasi yang intensif yang harus dilakukan praktisi kesehatan kepada masyarakat tentang apa sebenarnya Jampersal ini??, bagaimana tujuannya??

jampersal

jampersal


Sabtu (26112011) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember (FKM UJ) mengadakan seminar nasional dengan tema “Kebijakan Kementerian Kesehatan dalam Upaya Percepatan Penanggulangan Angka Kematian Ibu dan Bayi Melalui Program Jaminan Persalinan (Jampersal)”. Seminar ini dihadiri oleh praktisi kesehatan dan mahasiswa se-Indonesia. Pemateri yang dihadirkan antara lain Kasubid Bina Kesehatan Maternal dengan Pencegahan Komplikasi-Dirjen Bina Gizi & KIA Kemenkes RI dr. Rusmiyati, M.QIH dengan materi Kebijakan Program Jampersal, Pembiayaan Program Jampersal dari Sekretaris Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, Peran Bidan dalam program Jampersal oleh Endang Sri Resmiati, S.H., S.ST., M.Kes (Ketua Pengda IBI Propinsi Jatim), serta evaluasi pelaksanaan program Jampersal dari  tim dosen AKK FKM UJ.

Estimasi jumlah kemayian Ibu menurut propinsi di Indonesia menempatkan Jawa Barat, Jawa Tengan, NTT, Banten dan Jawa Timur sebagai lima propinsi dengan jumlah kematian ibu tertinggi (Laporan Rutin KIA 2010, koreksi jumlah kematian Ibu dengan AKI menurut SKRT 2007). Hal ini juga dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang tinggi pula di beberapa propinsi yang menduduki peringkat 5 besar ini. Namun, berbeda dengan NTT, jumlah penduduk yang sedikit serta jumlah kematian ibu yang tinggi menetapkan NTT menjadi propinsi dengan angka kematian tertinggi di Indonesia (jika di persentasekan). Hal ini dikarenakan pengaruh geografis di propinsi NTT itu sendiri.
Persalinan tidak hanya melibatkan terjadinya kematian pada Ibu namun juga terjadi kematian pada bayi. dr. Rusmiyati juga menjelaskan bahwa penyebab kematian pada bayi antara lain karena asfiksi yang terjadi pada proses persalinan, BBLR karena ibu hamil (bumil) tidak melakukan pemeriksaan secara teratur (K1-K4), serta bisa diakibatkan karena infeksi, hal ini bisa terjadi jika tempat persalinan yang tidak steril.

Dari data yang diperoleh dan faktor yang didapatkan, muncul kebijakan pemerintah untuk mengurangi angka kematian Ibu dan Anak, dengan melakukan terobosan seperti, setiap 1 kecamatan minimal memilki satu puskesmas. Dengan arti jika setiap kecamatan sudah memilki minimal 1 puskesmas, penanganan akan terjadinya persalinan akan lebih cepat teratasi. Keterlambatan dalam beberapa waktu saja dapat menghilangkan nyawa ibu maupun bayinya. Estimasi jumlah kematian ibu yang harus dicegah untuk mencapai MDG’s-5 adalah harus mencegah 7.187  kematian ibu, namun di Indonesia dengan adanya 95% linakes hanya dapat mencegah 3.138 kematian saja.

Lalu bagaimana dengan program Jampersal yang dikeluarkan oleh pemerintah? Pemerintah memebrikan sasaran yaitu untuk Ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas (sampai 42 hari pesca melahirkan) serta bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari).
Manfaat dari Jampersal antara lain:
1.    Biaya pelayanan dijamin pemerintah
2.    Ibu hamil akan mendapatkan pelayanan antenatal selama 4 kali sesuai standar oleh tenaga kesehatan
3.    Ibu bersalin akan mendapatkan pelayanan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan
4.    Ibu nifas akan mendapatkan pelayanan nifas 3 kali sesuai standar oleh tenaga kesehatan, termasuk pelayanan bayi  baru lahir dan KB pasca persalinan
5.    Ibu hamil, bersalin, dan nifas serta bayi baru lahir yang mempunyai masalah kesehatan akan ditanggung oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan yang lebih mampu (puskesmas, puskesmas mampu PONED, RS)
Pada pelaksanaan yang baru berjalan beberapa bulan ini muncul pula permasalahn antara lain: rujukan pasien belum berjalan optimal, antara lain disebabkan kompetensi bidang yang kurang. Penggantian biaya jampersal di bidan, puskesmas dan RS kecil, hal ini berdampak rujukan pasien ke RS Propinsi meningkat dengan kasus persalinan normal dan SL 1. Tarif paket INA-CBG’S untuk seluruh pertolongan persalinan (normal, dengan alat, sectio) lebih kecil dari Riil, cost RS rugi. Untuk penyakit resiko tinggi, Jampersal yang tidak masuk dalam pembiayaan jaminan penerapannya sukar dilaksanakan.

Pada sesi diskusi, banyak pertanyaan mencuat dari peserta mengenai rendahnya biaya yang diterima oleh bidan, ketidak jelasan peserta yang seharusnya mendapatkan Jampersal dan siapa yang seharusnya yang tidak mendapatkan jampersal.
Dalam pelaksanaan program yang dilakukan pemerintah terutama menyangkut dengan seuatu hal yang gratis atau biaya murah pastinya akan mengakibatkan ketidak jelasan pada pelaksanaannya, baik pada peserta yang sebenarnya mampu namun masih mendapatkan jaminan persalinan, maupun pendanaan untuk petugas kesehatan yang terlambat bahkan pelaksanaan yang mengakibatkan adanya jamina persalinan memebuat para suami istri memeprbanyak anak karena adanya jaminan untuk melahirkan dengan harga yang terjangkau.

Kasus lain yang bermunculan, keluarga yang mampu namun mendapatkan Jampersal, sedangkan keluarga tidak mampu tidak mendapatkan Jampersal, karena masih banyak fakta ditemukan di masyarakat kita bahwa ada ibu yang melahirkan tidak di nakes atau di fasilitas kesehatan dikarenakan tidak ada biaya. Hal ini perlu kerjasama antar masyarakat baik RT maupun masyarakat itu sendiri untuk memberikan data yang valid mengenai keluarga tidak mampu yang seharusnya berhak mendapatkan Jampersal.

Namun dari perwakilan Kemenkes hanya bisa menampung keluhan peserta yang nantinya akan dibicaran di tingkat yang lebih tinggi (pusat) agar kebijakan ini bisa menjadi kebijakan yang tepat dan menjadi keputusan yang tepat pula untuk dijalankan.
Bagaimana hasilnya?

11 thoughts on “Jampersal. Jaminan kah??

  1. yanis mengatakan:

    menyesal tidak datang k seminar ini,,
    moga2 aja g cuma ditampung keluhan2 yg ada kemarin,,
    ke depanx semoga kebijkan pemerintah bisa lebih mateng lagi,,..
    thanks pip dah dishare hasil seminarx

  2. afif mengatakan:

    yup. itu juga yang dikatakan peserta kemaren. moga2 aja g cuma d tampung, tapi juga dilaksanakan usul2nya..
    Kata orang Kemenkes program ini masih di godok. jadi masih membutuhkan banyak saran..
    Doa kita sama….

  3. phyta mengatakan:

    wah, ternyata ada tambahan tenaga promosi semnas kemarin…hehe..
    makasih ya mas, hasilnya semnas kemarin di share..
    insyaallah bermanfaat buat semua…amien…
    Semoga Kebijakan ini nantinya benar2 memberikan manfaat dan hasil yg positif buat masyarakat Indonesia…

  4. afif mengatakan:

    hehehee…
    yup sama2. moga aja pemerintah bisa lebih sigap dan tanggap. biar g jadi bulan2an masyarakat.
    kebanyakan masyarakat indonesia kan suka banyak nuntut…

  5. rikaqueena mengatakan:

    di kanor sudah di suruh mempelajari ini sm pak Kabid n pak Kadis…pusingggg….teori memang ndak terlalu PAS dgn praktekny. tp paling tidak ada upaya untuk tetap adanya pelayanan kesehatan masyarakat di Kota Sungai Penuh ini.

  6. afif mengatakan:

    Iya ka, di Jember n Surabaya juga rame. kemaren sampai debat panjang waktu tanya jawab dengan Kemenkes

  7. thrusia mengatakan:

    waduh..gak tau kalo ada seminar, bagus topiknya, semoga cepat ada solusinya..

  8. apipgoblog mengatakan:

    Wah aq dah share k group Ikakesma d face book mbak…
    alumni dapat harga diskon lho mbak

    • restie mengatakan:

      hehehehe jampersal suatu fenomena yang membuat aku sering dituduh aneh2 (nasib bendahara jampersal)

      • phyta mengatakan:

        ya semoga yang berkaitan dengan jampersal, terutama pembiayaannya bisa lancar2 saja ke depannya, Amien….
        so orang2 yang berkecimpung dalam pengelolaan Jampersal akan lebih bersemangat lagi dalam bekerja….🙂

      • apipgoblog mengatakan:

        hm kamu bendahara jampersal ya tie…
        PANTESAN!!!! (menuduh yang aneh2)

        share info lah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s