Emergency Use Only

Dulu, ketika pertama kali naik pesawat, perasaan senang akan muncul kalau tiba-tiba berada diposisi depan kabin. Entah kenapa banyak orang pun yang me-request posisi tempat duduk di bagian depan kabin pesewat.

Tak heran juga, ternyata tempat duduk no 1 baik A,B,C,D,E dan F biasanya didukui oleh orang-orang yang elit-elit atau orang yang hight class. Entah karena alasan apa saya tidak tau. Mudah berkomunikasi dengan pramugari/ pramugara?, mudah berkomunikasi dengan pilot? Atau pengen keluar duluan kalau pesawat sudah mendarat?, alassan terakhir ini bias dipakai karena kaum-kaum elit ini biasanya malas sekali berdesak-desaknan dengan penumpang yang lain.
Tapi memang, merasa bangga kalau sudah berada di posisi agak depan dibandingkan berada diposisi belakang kabin. Keluarga saya waktu pergi ke Jember yang terdiri dari Ayah, Ibu (yang saya panggil One) dua kakak , kakak ipar serta keponakan saya pernah berada di tempat duduk di kabin bagian belakang. Hal ini terjadi ketika mereka selesai mengikuti acara wisuda saya dan hendak kembali ke Padang. Menurut mereka posisi tersebut tidak mengenakan. Memamng menurut beberapa orang, jika berada di posisi belakang kabin akan merasakan posisi landing lebih kuat dibandingkan penumpang di posisi kabin depan maupun tengah.

Saya pernah merasakan berada di tempat duduk kabin bagian belakang. Tapi anehnya saya tidak merasakan perbedaan ketika saya duduk di kabin bagian tengah, maupun belakang.
Suatu hari, saya melakukan perjalanan dari Padang menuju Surabaya. Perjalanan ini memerlukan dua kali penerbangan, alias saya harus Transit terlebih dahulu. Pesawat pertama yang saya naiki akan terbang pada pukul 6 pagi. Pukul 4 lebih saya sudah stay di Bandara Internasional Minang Kabau (BIM). Saya melakukan chek-in terlebih dahulu sebelum mencari musholla untuk melakukan ibadah sholat subuh, yang kebetulan pada saat chek-in adzan subuh masih belum dikumandangakn.

Selesai chek-in saya langsung menuju pintu keluar untuk mencari musholla, padahal setahu saya musholla juga ada d lantai atas BIM. Namun alasan untuk mencari udara segar, membuat saya tetap keluar mencari mushola yang letaknya tidak jauh dari pintu keberangkatan BIM.
Boarding-pass sudah berada ditangan, tempat duduk pun sudah saya ketahui no berapa, namun saya masa bodo’ dengan tempat duduk nantinya.
Saat masuk ke pesawat pun sudah datang, saya bergegas menuju pintu masuk pesawat. Setelah melalui pemeriksaan boarding-pass, penumpang dipersilahkan masuk untuk mencari posisi tempat duduk. Setelah menemukan tempat duduk di dekat tempat duduk saya ada sebuag jendela yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan jendela-jendela lain. Mungkin ukurannya hampitr sama dengan ukuran tubuh manusia. Di atas jendela tersebut tertera “Emergency Use Only-Hanya Dipergunakan pada Saat Darurat” ternyata saya berada di seat dekat dengan jendela darurat.

Sempat kepikiran juga, bagaimana jadinya kalau hal-hal yangh tidak diinginkan terjadi dan saya tidak bias membuka jendela darurat? Dalam kartu petunjuk dikatakan bahwa orang yang ada di bangku berada di jendela darurat harus bersedia untuk duduk disana, kalau tidak bersedia maka akan digantikan dengan penumpang lain. Ketika pramugari menanyakan apakah kami berenam (yang berada didekat jendela darurat) bersedia berada di posisi ini, tidak aada satupun yang menjawab dengan tegas bersedia. Pramugaripun mengambil kesimpulan bahwa kami bersedia berada di posisi itu. Saya juga tidak berani mengacungkan didri minta diganti dengan penumpang lain. Takut dibilang cemen.
Berkali-kali diingatkan kepada kami yang berada di dekat jendela darurat untuk membaca petunjuk keselamatan jika terjadi hal yang parah. Saya berusaha memahami isi dari kartu petunjuk keselamatan itu, bagaimana cara membuka jendelanya, saya lihat dan pahami berkali-kali.

pintu darurat

Sempat terfikir dalam benakku kalau seandainya saya tidak bias membuka jendelanya, banyak nyawa yang terancam. Buru-buru saya mengucap asma Allah atas pikiran tadi. Namun beberapa saat saya berkhayal mengenai kelihaian saya membuka jendela darurat dan menyelamatklan banyak nyawa. Seperti di adegan-adegan film yang diperankan oleh tokoh-tokoh Hollywod yang tampan.
Ternyata ada sedikit kebanggaan jika berada di dekat jendela darurat, taukah kau kawan, jika kita berada di tempat duduk yang berdekatan dengan jendela darurat kita akan menjadi “Pahlawan Emergency Use Only” penumpang yang duduk dikabin depan pun akan berlari kearah kita jika berada dalam keadaan darurat. Tapi, di kabin depan dan belakang kan juga ada jendela darurat?. Ah, tapi bukan penumpang yang membuka kawan, tapi para pramugari dan pramugara. Saya tetap bangga.

***

PS:
Ternyata pintu atau jendela darurat dalam bahasa Melayu Malaysia adalah “Pintu Kecemasn”. Bener juga sih, karena pintu atau jendela itu digunakan dalan keadaan genting dimana semua penumpang dan awak kabin mencemaskan keselamatan mereka sendiri-sendiri. Hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s